Memetakan Kebutuhan Belajar Siswa (2)
Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to
Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa
kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3
aspek
Ketiga aspek tersebut adalah:
1.
Kesiapan belajar (readiness) murid
Sebagai guru, kita semua tentu
tahu bahwa siswa akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang
diberikan sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki
sebelumnya (kesiapan belajar). Lalu jika tugas-tugas tersebut memicu
keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang siswa (minat), dan jika tugas itu
memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai
(profil belajar).
1. KESIAPAN BELAJAR (READINESS)
Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata “Kesiapan Belajar”?
Bayangkanlah situasi berikut ini:
Dalam pelajaran bahasa Indonesia, Bu Nur ingin mengajarkan siswanya
membuat karangan berbentuk narasi. Ia kemudian melakukan penilaian diagnostik.
Ia menemukan bahwa ada tiga kelompok siswa di kelasnya.
ü
Kelompok A adalah siswa yang telah memiliki keterampilan
menulis dengan struktur yang benar dan memiliki kosakata yang cukup kaya.
Mereka juga cukup mandiri dan percaya diri dalam bekerja.
ü
Kelompok B adalah siswa yang memiliki keterampilan menulis
dengan struktur yang benar, namun kosakatanya masih terbatas.
ü Kelompok
C adalah siswa yang belum memiliki keterampilan menulis dengan struktur yang
benar dan kosakatanya pun terbatas.
Apa yang dilakukan oleh Bu Nur di atas adalah memetakan kebutuhan
belajar berdasarkan kesiapan belajar. Kesiapan belajar (readiness) adalah
kapasitas untuk mempelajari materi baru Sebuah tugas yang mempertimbangkan
tingkat kesiapan siswa akan membawa siswa keluar dari zona nyaman mereka, namun
dengan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap
dapat menguasai materi baru tersebut.
Ada banyak cara untuk membedakan kesiapan belajar. Tomlinson
(2001) mengatakan bahwa merancang pembelajaran berdiferensiasi mirip dengan menggunakan
tombol equalizer pada stereo atau pemutar CD. Untuk mendapatkan kombinasi
suara terbaik biasanya Anda akan menggeser-geser tombol equalizer tersebut
terlebih dahulu. Saat Anda mengajar, menyesuaikan “tombol” dengan tepat untuk
berbagai kebutuhan siswa akan menyamakan peluang mereka untuk mendapatkan
materi, jenis kegiatan dan menghasilkan produk belajar yang tepat di kelas
Anda. Tombol-tombol dalam equalizer tersebut mewakili beberapa
perspektif kontinum yang dapat digunakan untuk menentukan tingkat kesiapan siswa.
Beberapa contoh perspektif kontinum tersebutantara lain:
A.
Bersifat mendasar - Bersifat transformative
B.
Konkret - Abstrak.
C.
Sederhana – Kompleks
D.
Terstruktur - Open Ended
E.
Tergantung (dependent) - Mandiri (Independent)
F.
Lambat – Cepat
Lihat contoh pemetaan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar