Kita semua mempercayai bahwa anak lahir dengan keunikannya masing-masing.
Sebagai pendidik, kita memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa setiap anak
mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dengan cara terbaik yang sesuai untuk mereka. Lewat praktek pembelajaran
berdiferensiasi, siswa tidak hanya akan dapat memaksimalkan potensi mereka,
tapi mereka juga akan dapat belajar tentang berbagai nilai-nilai kehidupan yang
penting. Nilai-nilai tentang indahnya perbedaan, menghargai, makna baru dari
kesuksesan, kekuatan diri, kesempatan yang setara, kemerdekaan belajar, dan
berbagai nilai penting lainnya yang akan berkontribusi terhadap perkembangan
diri mereka secara lebih holistik/utuh. Oleh karena itu, penting untuk para
pendidik mengetahui bagaimana proses pembelajaran berdiferensiasi ini dapat
dilakukan, dengan cara-cara yang memungkinkan guru untuk dapat mengelolanya
secara efektif.
Pengertian
Pembelajaran Berdiferensiasi
Memahami karakteristik setiap peserta didik merupakan bagian
penting bagi seorang Guru. Karena begitu pentingnya aspek pertama yang dinilai dalam
penilaian kierja Guru adalah memahami karakateritik peserta didik. Guru harus
tahu bagaimana gaya belajar, minat, kesiapan belajar siswanya. Guru juga harus
tahu siapakah siswanya yang suka belajar secara kelompok atau yang justru
selalu menghindar saat bekerja kelompok. Guru harus tahu siapakah yang level
membacanya paling tinggi, siapakah siswa yang masih perlu dibantu untuk
meningkatkan keterampilan memahami bacaannya, siapakah yang paling senang
menulis, siapakah yang lebih senang berbicara.
Setiap harinya, tanpa disadari, guru dihadapkan oleh
keberagaman yang banyak sekali bentuknya. Mereka secara terus menerus
menghadapi tantangan yang beragam dan kerap kali harus melakukan dan memutuskan
banyak hal dalam satu waktu. Keterampilan ini banyak yang tidak disadari oleh
para guru, karena begitu naturalnya hal ini terjadi di kelas dan betapa
terbiasanya guru menghadapi tantangan ini. Berbagai usaha mereka lakukan yang
tentu saja tujuannya adalah untuk memastikan setiap siswa di kelas mereka
sukses dalam proses pembelajarannya.
Menurut Tomlinson (2000), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah
usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan
belajar individu setiap siswa.
Namun demikian, pembelajaran berdiferensiasi bukanlah berarti
bahwa guru harus mengajar dengan 28 cara yang berbeda untuk mengajar 28 orang siswa
pada kelas yang diampu atau bahkan lebih. Bukan pula berarti bahwa guru harus
memperbanyak jumlah soal untuk siswa yang lebih cepat bekerja dibandingkan yang
lain. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukan berarti guru harus mengelompokkan
yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan yang kurang. Bukan pula
memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak. Pembelajaran berdiferensiasi
bukanlah sebuah proses pembelajaran yang semrawut (chaotic), yang
gurunya kemudian harus membuat beberapa perencanaan pembelajaran sekaligus,
dimana guru harus berlari ke sana kemari untuk membantu si A, si B atau si C
dalam waktu yang bersamaan. Bukan. Guru tentunya bukanlah malaikat bersayap
atau Superman yang bisa ke sana kemari untuk berada di tempat yang berbeda-beda
dalam satu waktu dan memecahkan semua permasalahan. Lalu seperti apa sebenarnya
pembelajaran berdiferensiasi?
Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan
masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan siswa.
Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut
adalah yang terkait dengan:
1.
Bagaimana mereka
menciptakan lingkungan belajar yang
“mengundang’siswa untuk belajar dan
bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga
memastikan setiap siswa di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk
mereka di sepanjang prosesnya.
2.
Kurikulum
yang memiliki tujuan
pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran,
namun juga siswanya.
3.
Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru
tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif
yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan siswa mana yang masih ketinggalan,
atau sebaliknya, siswa mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang
ditetapkan.
4.
Bagaimana
guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar siswanya. Bagaimana ia
akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa
tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang
berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.
5.
Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru
menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas.
Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan
yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.
Jadi keputusannya untuk memberikan soal tambahan, dengan jenis soal yang tetap sama serta
tingkat kesulitan yang juga sama, kepada sejumlah siswa yang selesai terlebih
dahulu, belum dapat dikatakan sebagai diferensiasi. Apalagi, tujuan
diberikannya soal adalah agar siswa tersebut ada ‘pekerjaan’ sehingga tidak
mengganggu siswa yang lain. Pembelajaran berdiferensiasi haruslah berakar pada
pemenuhan kebutuhan belajar siswa dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar
tersebut. Dengan demikian, Guru perlu melakukan identifikasi kebutuhan belajar
dengan lebih komprehensif, agar dapat merespon dengan lebih tepat terhadap
kebutuhan belajar siswa-siswanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar