SUPERVISI PEMBELAJARAN
Materi supervisi
pembelajaran sangat penting bagi pengawas sekolah untuk mengawal suksesnya
implementasi kurikulum 2013, khususnya dalam melakukan supervisi terhadap
proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan dalam membantu kepala sekolah
dalam melakukan supervisi pembelajaran kepada guru-guru disekolah yang
dipimpinnya. Untuk itu pengawas sekolah harus memiliki kemampuan untuk memilih
dan melakukan model supervisi pembelajaran yang paling relevan dengan tuntutan
implementasi kurikulum 2013 di sekolah binaan masing-masing.
Berikut ini disajikan salah satu model
supervisi pembelajaran pada kurikulum 2013 bagi guru dan kepala sekolah.
SUPERVISI
KLINIS
a. Konsep
Supervisiklinis
Supervisi klinis
pada dasarnya merupakan pembinaan kinerja guru dalam mengelola proses belajar
mengajar yang didesain dengan praktis dan rasional, baik desain maupun pelaksanaannya
dilakukan atas dasar analisis data mengenai kegiatan-kegiatan di kelas,
selanjutnya data tersebut oleh supervisor dijadikan dasar penyusunan rencana,
program dan prosedur, serta strategi pembinaan guru.
Acheson dan Gall
(1987) menyatakan bahwa tujuan supervisi klinis adalah meningkatkan pengajaran guru
dikelas. Tujuan ini dirinci lagi ke dalam tujuan yang lebih spesifik, yaitu untuk:
(1) memberikan umpan balik yang objektif terhadap guru, (2) mendiagnosis dan
membantu memecahkan masalah-masalah pengajaran, (3) membantu guru mengembangkan
pengetahuan, sikap dan keterampilannya, (4) mengevaluasi guru untuk berbagai
kepentingan (promosi jabatan dan keputusan lainnya), dan (5) membantu guru
mengembangkan satu sikap positif terhadap pengembangan profesional yang
berkesinambungan.
b. Langkah-langkah
Supervisiklinis
Proses supervisi klinis dilakukan melalui
tiga tahap esensial yang berbentuk siklus, yaitu (1) tahap pertemuan awal, (2)
tahap observasi mengajar, dan (3) tahap pertemuan balikan. Ketiga tahapan
tersebut dapat diuraiakan sebagai berikut:
1) Tahap
Pertemuan Awal
Tahap pertama dalam proses
supervisiklinis adalah tahap pertemuan awal (pre-conference).
Pertemuan ini
dilakukan sebelum melaksanakan observasi kelas oleh karena itu disebut pre-observation conference. Menurut Sergiovanni (1982) tidak ada
tahap yang lebih penting dari pada tahap pertemuan awal ini. Goldhammer, dkk.
(1981) mendeskripsikan satu agenda yang harus dilakukan pada akhir pertemuan
awal, yaitu:
(a) Menetapkan
kontrak atau persetujuan antara supervisor dan guru tentang apa saja yang akan
diobservasi, misalnya:
· Tujuan instruksional umum dan khusus pengajaran.
· Hubungan tujuan pengajaran dengan keseluruhan program pengajaran yang
diimplementasikan.
· Aktivitas yang akan diobservasi dan kemungkinan perubahannya.
· Deskripsi spesifik tentang masalah-masalah yang ingin mendapat
balikan.
(b) Menetapkan
mekanisme atau aturan-aturan observasi meliputi:
· Waktu (jadwal) observasi.
· Lamanya observasi.
· Tempat observasi.
(c) Menetapkan
rencana spesifik untuk melaksanakan observasi meliputi:
· Tempat duduk supervisor selama observasi.
· Perlu tidaknya tujuan observasi dan waktunya.
· Tindakan khusus.
· Interaksi supervisor dengan murid-murid.
· Perlukah adanya material atau persiapan khusus.
· Kegiatan akhir observasi.
2) Tahap
Observasi Pembelajaran
Tahap kedua dalam proses supervisi klinis
adalah tahap observasi proses pembelajaran secara sistematis, obyektif, dan holistik.
Fokus observasi supervisi klinis adalah pada sikap, pengetahuan dan
keterampilan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Proses
observasi ini dilakukan sesuai dengan kesepakatan bersama antara supervisor dan
guru pada waktu mengadakan pertemuan awal.
Untuk menghindari pelaksanaan observasi
ini tidak mengalami kesulitan diperlukan bermacam-macam keterampilan. Daresh
(1989) menyatakan bahwa ada dua aspek yang harus diputuskan dan dilaksanakan
oleh supervisor sebelum dan sesudah melaksanakan observasi mengajar, yaitu menentukan
aspek-aspek yang akan diobservasi mengajar dan bagaimana cara mengobservasinya.
Aspek-aspek yang akan diobservasi harus sesuai dengan hasil diskusi dan
kesepakatan antara supervisor dan guru pada waktu pertemuan awal.
Senada dengan ini,Oliva (1984) menegaskan
bahwa: “If we follow through with the cycle of
clinical supervisor the teacher and supervisor in the preobservation conference have decided
on the specific behaviors of teacher and students which the
supervisor will observe. The supervisor concentrates on the presence
or absence of the spesific behaviors.” Artinya, bahwa jika kita mengikuti fokus spesifik yang akan diamati
dalam siklus supervisi klinis oleh supervisor kepada guru yang telah diputuskan
melalui kesepakan dalam pertemuan awal, maka supervisor harus berkonsentrasi
pada ada atau tidak adanya fokus spesifik yang telah diputuskan tersebut. Sedangkan
mengenai bagaimana mengobservasi juga perlu mendapatkan perhatian. Maksud baik
supervisi akan tidak berarti apabila usaha-usaha observasi tidak bisa
memperoleh data yang seharusnya diperoleh.
Tujuan utama pengumpulan data adalah
untuk memperoleh informasi yang nantinya akan digunakan untuk mengadakan tukar
pikiran dengan guru setelah observasi aktivitas yang telah dilakukan di kelas.
Di sinilah letak pentingnya teknik dan instrumen oberservasi yang bisa
digunakan untuk mengobservasi guru mengelola proses belajar mengajar.
Sehubungan dengan teknik dan instrumen
ini, sebenarnya para peneliti telah banyak yang mengembangkan bermacam-macam teknik
yang bisa digunakan dalam mengobservasi pengajaran. Acheson dan Gall (1987)
mereview beberapa teknik dan mengajurkan kita untuk menggunakannya dalam proses
supervisi klinis beberapa teknik tersebut adalah sebagai berikut:
(a)
Selective verbatim.
Di sini
supervisor membuat semacam rekaman tertulis, yang bisa dibuat dengan secara
rinci. Sudah barang tentu tidak semua kejadian verbal harus direkam dan sesuai
dengan kesepakatan bersama antara supervisor dan guru pada pertemuan awal,
hanya kejadian-kejadian tertentu yang harus direkam secara selektif. Transkrip
ini bisa ditulis langsung berdasarkan pengamatan dan bisa juga menyalin dari
apa yang direkam terlebih dahulu melalui tape recorder.
(b)
(Rekaman
observasional dalam grafik atau gambar.
Di sini, supervisor
mendokumentasikan perilaku-perilaku murid-murid sebagaimana mereka berinteraksi
dengan seorang guru selama pengajaran berlangsung. Seluruh kompleksitas perilaku
dan interaksi di deskripsikan secara bergambar. Melalui penggunaan grafik atau
gambar ini, supervisor bisa mendokumentasikan secara visual interaksi guru
dengan murid, murid dengan murid. Sehingga dengan mudah diketahui apakah guru hanya
berinteraksi dengan semua murid atau hanya dengan sebagian murid, apakah semua murid
atau hanya sebagian murid yang terlibat proses belajar mengajar.
(c)
Wide-lens techniques.
Di sini
supervisor membuat catatan yang lengkap mengenai kejadian-kejadian di kelas dan
cerita yang panjang lebar. Teknik ini bisa juga disebut dengan anecdotal
record.
(d)
Checklist and
timeline coding.
Di sini
supervisor mengobservasi dan mengumpulkan data perilaku belajar mengajar. Perilaku
pembelajaran ini sebelumnya telah diklasifikasi atau dikategorikan.
3) Tahap
Pertemuan Balikan
Tahap ketiga dalam proses supervisi klinis
adalah tahap pertemuan balikan. Pertemuan balikan dilakukan segera setelah melaksanakan
observasi pengajaran, dengan terlebih dahulu dilakukan analisis terhadap hasil
observasi. Tujuan utama pertemuan balikan ini adalah menindaklanjuti apa saja
yang dilihat oleh supervisor, sebagai observer, terhadap proses belajar mengajar.
Pembicaraan dalam pertemuan balikan ini adalah ditekankan pada identifikasi dan
analisis persamaan dan perbedaan antara perilaku guru dan murid yang
direncanakan dan perilaku aktual guru dan murid, serta membuat keputusan tentang
apa dan bagaimana yang seharusnya akan dilakukan sehubungan dengan perbedaan
yang ada.
Pertemuan balikan ini merupakan tahap
yang penting untuk mengembangkan perilaku guru dengan cara memberikan balikan
tertentu. Balikan ini harus deskriptif, spesifik, konkrit, bersifat memotivasi,
aktual, dan akurat sehingga betul-betul bermanfaat bagi guru (Sergiovanni,
1987). Paling tidak ada lima manfaat pertemuan balikan bagi guru sebagaimana
dikemukakan oleh Goldhammer, dkk. (1981), yaitu: (1) guru bisa diberi penguatan
dan kepuasan kerja, sehingga bisa termotivasi dalam kerjanya, (2) isu-isu dalam
pengajaran bisa didefinisikan bersama supervisor dan guru dengan tepat, (3)
supervisor bila mungkin dan perlu, bisa berupaya mengintervensi secara langsung
guru untuk memberikan bantuan didaktik dan bimbingan, (4) guru bisa dilatih
dengan teknik ini untuk melakukan supervisi terhadap dirinya sendiri, dan (5)
guru bisa diberi pengetahuan tambahan untuk meningkatkan tingkat analisis
profesionalisme diri pada masa yang akan datang.
Sebelum mengadakan pertemuan balikan
supervisor terlebih dahulu menganalisis hasil observasi dan merencanakan bahan
yang akan dibicarakan dengan guru. Begitu pula diharapkan guru menilai dirinya
sendiri. Setelah itu dilakukan pertemuan balikan ini. Dalam pertemuan balikan
ini sangat diperlukan adanya keterbukaan antara supervisor dan guru. Sebaiknya,
sedari awal supervisor menanamkan kepercayaan pada diri guru bahwa pertemuan
balikan ini bukan untuk menyalahkan guru melainkan untuk memberikan masukan perbaikansebelum
melanjutkan dengan analisis bersama setiap aspek pengajaran yang menjadi
perhatian supervisi klinis.
Berikut ini beberapa langkah penting yang
harus dilakukan selama pertemuan balikan:
(a)
Menanyakan
perasaan guru secara umum atau kesannya terhadap pengajaran yang dilakukan,
kemudian supervisor berusaha memberikan penguatan.
(b)
Menganalisis
pencapaian tujuan pengajaran. Di sini supervisor bersama guru mengidentifikasi
perbedaan antara tujuan pengajaran yang direncanakan dan tujuan pengajaran yang
dicapai.
(c)
Menganalisis
target keterampilan dan perhatian utama guru. Di sini (supervisor bersama guru mengidentifikasi
target ketrampilan dan perhatian utama yang telah dicapai dan yang belum
dicapai. Bisa jadi pada saat ini supervisor menunjukkan hasil rekaman
observasi, sehingga guru mengetahui apa yang telah dilakukan dan dicapai, dan
yang belum sesuai dengan target keterampilan dan perhatian utama guru
sebagaimana disepakati pada tahap pertemuan awal. Apabila dalam kegiatan
observasi supervisor merekam proses belajar mengajar dengan alat elektronik,
misalnya dengan menggunakan alat syuting, maka sebaiknya hasil rekaman ini dipertontonkan
kepada guru sehingga ia dengan bebas melihat dan menafsirkannya sendiri.
(d)
Supervisor
menanyakan perasaannya setelah menganalisis target keterampilan dan perhatian
utamanya.
(e)
Menyimpulkan
hasil dari apa yang telah diperolehnya selama proses supervisiklinis. Dalam
kegiatan ini supervisi memberikan kesempatan kepada guru untuk menyimpulkan target
keterampilan dan perhatian utamanya yang telah dicapai selama proses supervisi
klinis.
(f)
Mendorong
guru untuk merencanakan latihan-latihan berikut sekaligus menetapkan rencana
berikutnya.
Urutan
kegiatansupervisi pembelajaran secara klinis dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1. Proses Supervisi Klinis
Dalam pelaksanaan
supervisi klinis sangat diperlukan iklim kerja yang baik dalam pertemuan awal,
observasi pengajaran, maupun dalam pertemuan balikan.Faktor yang sangat menentukan
keberhasilan supervisiklinis sebagai satu pendekatan supervisi pengajaran
adalah kepercayaan (trust) pada guru bahwa tugas supervisor semata-mata untuk membantu mengembangkan
pengajaran guru.Upaya memperoleh kepercayaan guru ini memerlukan satu iklim
kerja yang oleh para teoritisi disebut dengan istilah kolegial (collegial).
Pelaksanaan
supervisiklinis bisa dikatakan telah memiliki iklim kolegial apabila antara
supervisor dan guru bukanlah hubungan atasan dan bawahan atau tetapi hubungan
sesame peer to peer (Daresh, 1989).
Hal lain penentu
keberhasilan supervisiklinis adalah kesediaan dan kebersamaan supervisor dan guru
untuk meluangkan waktumasing-masing dalam semua tahapan yang harus dilakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar