Penyusunan Proposal PTK
JUDUL
PENELITIAN
Judul PTK hendaknya dirumuskan
secara singkat, jelas, dan spesifik. Judul memuat masalah yang dihadapi dan
sekaligus cara atau metode (berupa langkah-langkah) mengatasi masalah tersebut
serta setting. Dalam judul PTK menggambarkan: 1) masalah yang diteliti atau
hasil belajar yang akan ditingkatkan, selanjutnya disebut variabel Y atau
variabel terikat/dependent variable, 2)
tindakan atau metode mengatasi masalah, selanjutnya disebut variabel X atau
variabel bebas/independent variable, dan
3) setting atau tempat penelitian
berlangsung.
Ide tindakan berasal dari
pengalaman mengajar, saran teman, hasil kajian kritis terhadap laporan hasil
penelitian, membaca buku, dan lain-lain. Judul dalam sebuat PTK tidak lebih
dari 15 atau 20 kata. Secara garis besar, alternatif-alternatif judul PTK dapat
dilihat pada ilustrasi berikut ini:
- Upaya peningkatan Y melalui X, pada setting…..
- Optimalisasi Y melalui X, pada setting…..
- Penerapan atau Penggunaan X untuk meningkatkan Y, pada setting…..
- Meningkatkan Y melalui X, pada setting…..
Contoh-Contoh Judul PTK:
- Penerapan Pembelajaran Tematik untuk meningkatkan Kualitas Pembelajaran di Kelas-1 SDN Tasikmadu Malang.
- Upaya Peningkatan Kemampuan Menulis Paragraf bagi Siswa Kelas 4 SDN Sengkaling dengan Media Gambar Berseri.
- Optimalisasi Penerapan Investigasi Kelompok terhadap Lingkungan Kelas untuk Meningkatkan Kemampuan Mengidentifikasi Bentuk-Bentuk Geometri Siswa Kelas 2 SDN Sumbersari 3 Malang.
- Upaya Peningkatan Kemampuan Siswa dalam Menghitung Bilangan Pecah dengan Pembelajaran Berbantuan Benda Konkret pada Kelas-4 SDN Manasuka Malang.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada bagian Latar
Belakang masalah menggambarkan masalah nyata (faktual) yang terjadi di kelas
tempat penelitian. Latar belakang berisi paparan tentang kondisi yang
diharapkan dan kondisi riil/nyata yang ada, sehingga terlihat adanya
kesenjangan atau biasa disebut dengan masalah. Dukungan dari hasil observasi
awal yang terjadi di kelas dan dari hasil-hasil penelitian terdahulu akan memberikan
landasan yang kokoh sebagai alasan yang kuat mengenai pentingnya menangani
masalah tersebut melalui tindakan kelas. Dengan demikian, perlu diberikan data-data
kuantitatif maupun kualitatif (hasil observasi awal) dan tinjauan pustaka
(hasil penelitian terdahulu). Secara umum, pada latar belakang memaparkan
hal-hal sebagai berikut:
1.
Tujuan umum dan tujuan khusus
dari suatu kegiatan pembelajaran pada materi tertentu. Kondisi ideal (yang diharapkan)
yang harus tercermin dalam suatu kegiatan pembelajaran dengan merujuk pada SK
dan KD yang terkait dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Apabila perlu,
paparan tersebut didukung dengan data-data kuantitatif maupun kualitatif dan
tinjauan pustaka hasil penelitian terdahulu;
2.
Kondisi atau fakta nyata (riil)
yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran dan hasil belajar yang diperoleh.
Kondisi atau fakta nyata yang terjadi tersebut, berbeda dengan kondisi ideal
yang diharapkan, sehingga muncul suatu masalah. Juga dipaparkan akar atau penyebab
munculnya masalah. Paparan disertai data-data kuantitatif maupun kualitatif
(hasil observasi awal) dan tinjauan pustaka (hasil penelitian terdahulu);
3.
Tindakan atau cara (metode) untuk
memecahkan masalah. Paparan tindakan atau cara (metode) untuk memecahkan
masalah disertai acuan teori atau kajian pustaka dari ahli atau hasil
penelitian terdahulu;
Penegasan pentingnya menyelesaikan masalah tersebut
melalui penelitian tindakan.
Contoh latar belakang (adaptasi
dari Ery, 2011).
Pembelajaran IPA bertujuan untuk pemberian pengalaman langsung dalam
mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar
secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk “mencari tahu” dan “berbuat”
sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam
tentang alam sekitar (Depdiknas, 2004). Hal ini juga terjabarkan pada standar
kompetensi nomor 6, yaitu memahami beragam sifat dan perubahan wujud benda serta
berbagai cara penggunaan benda berdasarkan sifatnya,
dengan kompetensi dasar nomor 6.1, yaitu
mengidentifikasi wujud benda padat, cair, dan gas memiliki sifat tertentu.
Pada
tanggal 21 November 2010, pada jam pelajaran pertama sampai ketiga, peneliti
sebagai guru kelas IV SDN Jatikalang I Krian Sidoarjo, mengajar mata pelajaran
IPA. Materi pelajaran yang diajarkan adalah sifat-sifat benda cair. Sedangkan
tujuan pembelajaran yang akan dicapai adalah
siswa dapat mengidentifikasi sifat-sifat benda cair. Materi pelajaran dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai mengacu
pada standar kompetensi dan kompetensi dasar di atas.
Berdasarkan
hasil pengamatan peneliti tanggal 21 Nopember 2010 sewaktu melaksanakan pembelajaran IPA tentang
sifat- sifat benda cair terungkap
hal-hal sebagai berikut: (1) metode yang digunakan untuk pembelajaran ketika
itu adalah metode diskusi terbimbing, (2) sebagian besar siswa tidak bisa
menjawab soal yang diberikan oleh guru dan kelihatan malas mengikuti pelajaran
yang sedang berlangsung, (3) kegiatan diskusi terbimbing hanya didominasi dua
siswa dalam kelompok, dan (4) suasana kelas ramai dan agak gaduk karena
mendengar ada siswa yang salah dalam menjawab soal yang diberikan guru secara
lisan.
Selain keempat hal tersebut, diketahui pula bahwa
hanya 16 siswa (46,7 %) mencapai nilai 70-100 dan 14 siswa
(46,7 % ) yang mencapai nilai di bawah 70. Kriteria ketuntasan minimal atau KKM yang
ditentukan oleh SDN Jatikalang I adalah 70,00 dengan ketuntasan belajar 65%. Nilai rata-rata yang
dicapai siswa hanya mencapai 67,00 jauh dibawah standar ketuntasan minimal.
Berdasarkan hasil identifikasi masalah-masalah di
atas, masalah yang paling penting dan mendesak untuk segera dipecahkan adalah rendahnya
hasil belajar siswa dalam mengidentifikasi sifat-ifat benda cair. Berdasarkan
hasil pengamatan dan renungan peneliti, penyebab atau akar permasalahan
rendahnya hasil belajar siswa diduga karena peneliti kurang tepat dalam
pemilihan cara dan model pembelajaran.
Untuk
memecahkan masalah di atas, yaitu rendahnya hasil belajar, maka peneliti
menggunakan pembelajaran model inquiry. Dengan pembelajaran model inquiry siswa
akan belajar lebih aktif, suasana belajar lebih menyenangkan, dan kemampuan
mengidentifikasi sifat-sifat benda cair akan meningkat, dan lebih banyak siswa
yang dapat mencapai ketuntasan dalam mengidentifikasi sifat-sifat benda cair.
Hal ini didukung oleh West & Pines (1985) yakni dalam pelaksanaan
pembelajaran model inquiry, siswa mencari tahu tentang alam secara sistematis,
dan juga merupakan suatu proses penemuan belajar melibatkan pembentukan makna
oleh siswa dari apa yang mereka lakukan, lihat, dan dengar. Dengan demikian, penelitian ini sangat penting dan
mendesak untuk segera dilakukan.
B. Identifikasi Masalah
Pada kegiatan
identifikasi masalah, dituliskan atau disebutkan masalah-masalah yang muncul
selama kegiatan pembelajaran berlangsung atau hasil belajar yang telah dicapai.
Contoh
identifikasi masalah (adaptasi dari Ery, 2011)
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas,
maka teridentifikasi masalah-masalah sebagai berikut:
1. Sebagian
besar siswa tidak bisa menjawab soal yang diberikan oleh guru dan kelihatan
malas mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung,
2. Kegiatan
diskusi terbimbing hanya didominasi dua siswa dalam kelompok,
3. Suasana
kelas ramai dan agak gaduh karena mendengar ada siswa yang salah dalam menjawab
soal yang diberikan guru secara lisan.
4. Hasil
belajar yaitu nilai rata-rata yang dicapai siswa hanya mencapai 67,00 dibawah
standar ketuntasan minimal 7,00.
C. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Pembatasan
dan perumusan masalah merupakan tindak lanjut dari identifikasi masalah.
Masalah-masalah yang telah teridentifikasi dibatasi (dipilih) salah satu yang
penting dan mendesak untuk dipecahkan. Apabila sudah dibatasi (dipilih)
dibuatkan suatu kalimat rumusan masalah. Perumusan masalah merupakan usaha
untuk menyatakan secara tertulis pertanyaan-pertanyaan yang ingin dicari
jawabannya melalui penelitian. Masalah yang dirumuskan harus spesifik, jelas,
singkat, dan padat yang dirumuskan dalam kalimat tanya. Tujuan menggunakan
kalimat tanya agar dalam melakukan penelitian semua terarah untuk menjawab
pertanyaan dalam rumusan masalah dan penelitian tersebut fokusnya untuk
memecahkan masalah. Dan dipastikan bahwa setiap rumusan masalah terkait (nyantol)
pada latar belakang masalah.
Contoh
Pembatasan dan Rumusan Masalah (adaptasi dari Ery,
2011)
Berdasarkan
hasil identifikasi masalah, peneliti membatasi masalah yang akan segera
dipecahkan yaitu hasil belajar siswa rendah yakni nilai rata-rata yang dicapai
siswa hanya mencapai 67,00 dibawah standar ketuntasan minimal 70,00. Dengan
demikian rumusan penelitian ini adalah sebagai berikut: “Apakah penerapan
pembelajaran model inquiry dapat meningkatkan hasil belajar mengidentifikasi
sifat-sifat benda cair pada siswa kelas IV SDN Jatikalang I, Krian, Sidoarjo?”
C. Pemecahan
Masalah.
Bagian ini berisi cara
(metode/strategi/model) pembelajaran yang akan dilaksanakan. Langkah-langkah
dan pengalaman belajar yang dilakukan guru dan dialami siswa dalam proses
pembelajaran kerangka untuk memecahkan masalah.
Contoh
Pemecahan Masalah (adaptasi dari Ery, 2011)
Untuk
memecahkan masalah rendahnya hasil belajar mengidentifikasi sifat-sifat benda
cair pada siswa kelas IV SDN Jatikalang I, Krian, Sidoarjo, maka peneliti
melaksanakan penerapan pembelajaran model inquiry. Secara umum,
langkah-langkahnya adalah : (1) guru melakukan apersepsi, (2) guru meyampaikan
kompetensi dasar dan indikator pembelajaran, (3) guru menyiapkan air dan sebuah gelas, air di tuang dari botol
ke dalam gelas dan meminta peserta didik mengamati air tersebut, (4) Guru
membagi peserta didik menjadi lima kelompok dimana tiap kelompok terdiri dari 6
siswa, (5) guru meminta peserta didik
untuk melakukan percobaan dan menemukan
sifat-sifat benda cair dari percobaan yang mereka lakukan, (7) siswa melakukan
percobaan, berdiskusi, mencatat hasilnya dan dipresentasikan didepan kelas, dan
(8) refleksi dan penegasan materi oleh guru .
Keterangan:
Dalam format tertentu
atau menurut gaya penulisan (selingkung) tertentu,
penulisan identifikasi
masalah, pembatasan masalah, dan pemecahan masalah, tidak ditulis menjadi
subbab, tetapi menjadi satu atau menyatu dengan latar belakang.
D. Hipotesis
Tindakan
Hipotesis
tindakan adalah pernyataan sementara berupa tindakan yang akan dilaksanakan,
guna memecahkan masalah yang diteliti. Ini berarti, hipotesis tindakan
merupakan pernyataan sementara peneliti berdasarkan kajian teori/pustaka dan
kerangka berpikir, yakni jika dilakukan tindakan ini maka diyakini akan
memecahkan/mengatasi masalah tersebut. Hal lain yang perlu disampaikan adalah hipotesis pada PTK lebih merupakan
hipotesis tindakan bukan hipotesis penelitian.
Dalam merumuskan hipotesis tindakan,
peneliti dapat menggunakan batuan kata “ Jika … maka …”, atau tanpa menggunakan
bantuan kata tersebut, yang terpenting merupakan rumusan hipotesis tindakan.
Contoh Hipotesis Tindakan (adaptasi dari Ery, 2011) :
”Jika pembelajaran dengan model inquiry
maka akan meningkatkan hasil belajar mengidentifikasi sifat-sifat benda cair
pada siswa kelas IV SDN Jatikalang I Krian-Sidoarjo ”
Peneliti perlu menuliskan
indikator (ukuran) ketercapaian tindakan penelitian sebagai rambu-rambu kapan
penelitian tindakan kelas ini dapat diakhiri. Pada umumnya, pelaksanaan PTK
diakhiri jika tujuan penelitian yang berupa peningkatan kualitas proses pembelajaran
sudah tercapai, atau masalah penelitian sudah dapat terpecahkan. Perumusan
indikator ketercapaian tujuan penelitian mengacu kepada masalah apa yang menjadi
pusat perhatian dalam PTK. Masalah-masalah (variabel) apa saja yang akan
diatasi dalam penelitian yang bersangkutan itulah yang harus muncul dalam
kriteria/indikator ketercapaian tujuan penelitian.
Contoh
Indikator Keberhasilan (adaptasi dari Ery, 2011)
Indikator keberhasilan tindakan:
- Tindakan perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil apabila secara umum rata-rata hasil tes terakhir setelah pelaksanaan pembelajaran model inquiry dapat meningkatkan kemampuan mengidentifikasi sifat-sifat benda cair pada siswa kelas IV SDN Jatikalang, Krian, Sidoarjo, minimal meningkat10 %.
- Tindakan perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil apabila 75% siswa telah menguasai ketuntasan minimal (SKM) yang telah ditetapkan.
Keterangan:
Dalam format tertentu
atau menurut gaya penulisan (selingkung) tertentu,
penulisan hipótesis
dan indikator keberhasilan ditulis pada bagian BAB II.
E. Tujuan
Penelitian
Tujuan
penelitian hendaknya dirumuskan: berdasarkan rumusan masalah dan dirumuskan
secara singkat, jelas, dan spesifik, dan dirumuskan dalam kalimat pernyataan.
Tujuan penelitian juga harus mampu menjawab pertanyaan dari rumusan masalah
yang diberikan.
Contoh Tujuan Penelitian
(adaptasi dari Ery, 2011)
Tujuan penelitian ini sebagai upaya untuk meningkatkan hasil
belajar mengidentifikasi sifat-sifat benda cair pada siswa
kelas IV SDN Jatikalang, Krian, Sidoarjo
F. Manfaat Penelitian.
Manfaat
penelitian hendaknya memberi kemanfaatan teoretis dan kemanfaatan praktis bagi
siswa, guru, sekolah, dan penelitian lanjutan.
Contoh
Manfaat Penelitian (adaptasi dari Ery, 2011)
Hasil
penelitian ini akan memberikan sumbangan yang bersifat teoritis pada khasanah
ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang pembelajaran di SD. Disamping itu juga
akan memberikan manfaat bagi siswa, guru, kepala sekolah/pengawas/dinas
pendidikan, peneliti lanjutan, yaitu sebagai berikut:
1. Manfaat bagi siswa: dapat meningkatkan kemampuan mengidentifikasi sifat-sifat benda cair dalam
mempelajari pelajaran Sains (IPA)
2.
Manfaat bagu
guru –guru adalah sebagai alternatif pilihan bagi guru untuk menerapkan model
pembelajaran berbasis penemuan dalam mengidentifikasi sifat-sifat benda air dan
membantu guru berkembang secara professional
.dalam pengetahuan dan keterampilan
3.
Manfaat bagi
kepala sekolah, pengawas sekolah, dan dinas pendidikan adalah dapat
menyosialisasikan hasil penelitian ini kepada guru - guru kelas IV SD ; dan
4.
Manfaat bagi peneliti lanjut adalah
sebagai acuan untuk penelitian lebih lanjut. Hasil penelitian ini dapat
dijadikan inspirasi bagi para peneliti lain yang ingin mendalami persoalan
pembelajaran mengidentifikasi sifat-sifat benda cair.
G. Definisi
Operasional (Definisi Konsep)
Peneliti (guru) harus mendefinisikan istilah-istilah yang digunakan dalam
variabel (komponen bahasan utama) penelitiannya. Variabel terdapat di rumusan
kalimat pada judul penelitian. Penyebutan definisi operasional dimaksudkan agar
terdapat kesamaan persepsi mengenai arti atau makna istilah yang digunakan. Apabila terdapat bermacam-macam definisi
terhadap istilah yang sama, maka peneliti harus menegaskan definisi mana yang
digunakan. Definisi mana yang digunakan, ditentukan menurut pengertian peneliti
sendiri berdasar teori yang menjadi acuan peneliti dalam melaksanakan
penelitian.
Contoh:
- Pembelajaran Model Inquiry adalah .................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
Secara
umum langkah-langkah pembelajaran model inquiry adalah sebagai berikut:....................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
- Hasil belajar mengidentifikasi sifat-sifat benda cair adalah ............................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
· Memberikan guideline (petunjuk
atau arahan) bahwa suatu tindakan (variabel
X) untuk memecahkan suatu
masalah (variabel Y) dibenarkan secara teori.
· Memaparkan isu-isu utama yang diangkat dalam penelitian yang tercakup pada
fokus/rumusan masalah.
· Sumber pustaka dapat berasal dari: 1)
buku-buku yang memuat teori-teori yang relevan; 2) hasil-hasil penelitian
terdahulu berupa: skripsi, tesis, dan disertasi; 3) hasil-hasil penelitian yang
dimuat di jurnal ilmiah; 4) Makalah dari kegiatan/forum ilmiah; 5) sumber lain
dari berbagai website internet yang
memuat hasil-hasil penelitian terdahulu.
A. Variabel X (Metode/Strategi
mengajar)
Contoh
Pembelajaran Model Inquiry (adaptasi dari Ery,
2011)
Nurhadi (2003) mendefinisikan inquiry sebagai suatu
proses yang bergerak dari langkah observasi sampai langkah pemahaman. Observasi
yang menjadi dasar pemunculan berbagai pertanyaan yang diajukan siswa, jawaban
terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut dikejar dan diperoleh melalui suatu
siklus pembuatan prediksi, perumusan hipotesis, pengembangan cara-cara
pengujian hipotesis, pembuatan observasi lanjutan, penciptaan teori dan
model-model konsep yang didasarkan pada data dan pengetahuan. Model inquiry
adalah suatu teknik pembelajaran dimana dalam proses belajar mengajar, siswa
diharapkan selalu dihadapkan dengan suatu masalah.
Selanjutnya Sanjaya (2008;196) menyatakan
bahwa ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran
inquiry. Pertama, strategi inquiry menekankan kepada
aktifitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya pendekatan
inquiry menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran,
siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru
secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi
pelajaran itu sendiri. Kedua, seluruh aktivitas
yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri dari sesuatu
yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief). Artinya dalam pendekatan inquiry
menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator
dan motivator belajar siswa. Aktvitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui
proses tanya jawab antara guru dan siswa, sehingga kemampuan guru dalam
menggunakan teknik bertanya merupakan syarat utama dalam melakukan inquiry. Ketiga, tujuan dari penggunaan strategi
pembelajaran inquiri adalah mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian
dari proses mental, akibatnya dalam pembelajaran inkuiri siswa tidak hanya
dituntut agar menguasai pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat
menggunakan potensi yang dimilikinya.
Tabel 2.1a Sintaks Model
Belajar Melalui Inquiry
Tahap
|
Tngkah Laku Guru
|
Tahap 1
Observasi untuk
menemukan masalah
|
Guru menyajikan
kejadian-kejadian atau fenomena yang memungkinkan siswa menemukan masalah.
|
Tahap 2
Merumuskan masalah
|
Guru membimbing siswa merumuskan masalah
penelitian berdasarkan kejadian dan fenomena yang disajikannya.
|
Tahap 3
Mengajukan hipotesis
|
Guru membimbing siswa untuk mengajukan
hipotesis terhadap masalah yang telah dirumuskan
|
Tahap 4
Merencanakan pemecahan masalah (melalui
eksperimen atau cara lain)
|
Guru membimbing siswa untuk merencanakan
pemecahan masalah, membantu menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dan
menyusun prosedur kerja yang tepat.
|
Tahap 5
Melaksanakan eksperimen
(atau cara pemecahan masalah yang lain)
|
Selama siswa bekerja
guru membimbing dan memfasilitasi.
|
Tahap 6
Melakukan pengamatan
dan pengumpulan data
|
Guru membantu siswa
melakukan pengamatan tentang hal-hal yang penting dan membantu mengumpulkan
dan mengorganisasi data
|
Tahap 7
Analisis data
|
Guru membantu siswa
menganalisis data supaya menemukan sesuatu konsep .
|
Tahap 8
Penarikan kesimpulan
atau penemuan
|
Guru membimbing siswa
mengambil kesimpulan berdasarkan data dan menemukan sendiri konsep yang ingin
ditanamkan.
|
Sumber :
Yuliono, dkk 2008
Layaknya metode pembelajaran
lainnya, metode inquiry juga memiliki beberapa keuntungan dan kelemahan.
Beberapa kelebihan pembelajaran dengan metode penemuan (inquiry) menurut Syah (
2003;244) diantaranya adalah; 1) pembelajaran menjadi terpusat pada siswa (
student contered), dimana siswa tidak hanya belajar menemukan konsep dan
prinsip-prinsip tetapi ia juga mengalami proses belajar tentang tanggung jawab dan komunikasi sosial, 2)
dapat membentuk dan mengembangkan konsep dan sikap yang ada pada diri siswa, 3)
tingkat pengharapan siswa bertambah
yaitu siswa mempunyai ide
tertentu tentang bagaimana dapat menyelesaikan suatu tugas dengan cara mereka
sendiri, 4) proses belajar inquiry dapat
menghindarkan siswa dari cara-cara
belajar dengan cara menghafal, 5) proses belajar inquiry memberikan waktu bagi
siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.
Adapun kelemahan dari metode inquiry antara lain ; 1) proses
penemuan ( inquiry) membutuhkan waktu
yang cukup lama dan sarana pendukung
yang memadai, 2) kemampuan guru sangat dituntut, khususnya kemampuan dalam hal
menyiapkan kondisi pembelajaran yang dapat membuat siswa memiliki motivasi
untuk menemukan sendiri fakta-fakta yang ada di alam. Kemampuan ini cenderung
tidak dimiliki sebagian besar guru, 3) kemampuan sisaw yang beragam dapat
mempengaruhi hasil dan proses penemuan (inquiry) dalam pembelajaran.
Dalam penelitian ini peneliti mengambil
langkah-langkah dalam metode inquiry sebagai berikut : 1) langkah pertama yang dilakukan oleh guru membagi
peserta didik menjadi beberapa kelompok, 2)masing-masing kelompok mendapat
tugas tertentu yang harus dikerjakan, 3) peserta didik mempelajari, melakukan
percobaan , meneliti, atau membahas
tugasnya di dalam kelompok (eksperimen dan
observasi) ,4)setelah meneliti dilanjutkan dengan diskusi, 5)
menarik kesimpulan.atau penemuan
(inquiry)
Tabel 2.1b. Sintaks Model Inquiry dalam penelitian
Tahap
|
Tngkah Laku Guru
|
Tahap 1
Pembentukan kelompok
|
Guru membagi peserta
didik menjadi beberapa kelompok .
|
Tahap 2
Memberikan tugas (LKS)
|
Guru membimbing siswa merumuskan masalah
penelitian berdasarkan kejadian dan fenomena yang disajikannya.
|
Tahap 3
Melaksanakan eksperimen
(atau cara pemecahan masalah yang lain) dan obeservasi
|
Selama siswa bekerja
guru membimbing dan memfasilitasi.
|
Tahap 4
Diskusi
|
Guru membantu siswa
menganalisis data supaya menemukan
suatu konsep dan
mengevaluasi dalam tanya jawab .
|
Tahap 5
Penarikan kesimpulan
atau penemuan (inquiry)
|
Guru membimbing siswa
mengambil kesimpulan berdasarkan data dan menemukan sendiri konsep yang ingin
ditanamkan.
|
B. Hasil Belajar atau Prestasi Belajar
·
Memaparkan
bentuk-bentuk atau tipe-tipe hasil belajar yang dinginkan. Bentuk atau tipe
hasil belajar antara lain; menurut Bloom,
(1) kognitif: pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis,
sintesis, dan evaluasi, (2)
psikomotor, dan (3) Afektif; atau menurut Gagne, (1) keterampilan intelektual, (2) informasi
verbal, (3) strategi Kognitif, (4) sikap, dan (5) keterampilan motorik; dan Merril,
tentang tipe isi dan unjuk kerja dari hasil belajar; (1) Tipe isi, meliputi:
fakta, konsep, prosedur, dan prinsip; (2) unjuk kerja; (1) mengingat,
menggunakan, dan menemukan.
· Mencari landasan antara keterkaitan hasil belajar
atau prestasi belajar dengan metode. Apakah berkorelasi atau sudah sesuai hasil
belajar yang akan dicapai dengan metode/strategi yang akan digunakan?
Contoh
hasil belajar (adaptasi dari Ery, 2011)
Hasil
belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh
mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang
diberikan oleh guru. Hal ini sesuai dengan pendapat Hornby (2000), yang mengemukakan bahwa prestasi (achievement) adalah “a thing that somebody has done successfully,
especially using their own effort and skill”. Berdasarkan makna leksikal
tersebut, dapat diketahui bahwa hasil belajar merupakan tingkat penguasaan
pengetahuan dan keterampilan mata pelajaran yang diukur dengan alat ukur
tertentu. Alat ukur yang digunakan untuk mengetahui prestasi belajar seseorang
setelah mengikuti proses pembelajaran dapat berupa tes maupun nontes.
Berdasarkan alat ukur berupa tes dan/atau nontes tersebut diperoleh skor atau
nilai yang menunjukkan tingkat prestasi belajar seseorang.
Steinberger
dalam Basuki (2004) menyatakan bahwa hasil atau achievement meliputi kemampuan (ability) dan kinerja (performance).
Prestasi memiliki sifat multidimensi yang
berhubungan dengan perkembangan manusia, yakni perkembangan kognisi, emosi,
sosial, dan pertumbuhan fisik. Hal ini merupakan refleksi dari perkembangan
secara keseluruhan individu, yang tidak hanya terkait pada suatu kejadian
tersendiri, melainkan melintasi waktu dan tingkat kehidupan individu.
Hasil
belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki pebelajar sebagai akibat perbuatan belajar dan dapat diamati melalui
penampilan pebelajar (Gagne, 1988). Sejalan dengan pendapat Gagne tersebut,
Dick & Reiser (dalam Djamaah, 2000) mendefinisikan prestasi belajar sebagai
kemampuan-kemampuan yang dimiliki pebelajar sebagai hasil kegiatan
pembelajaran.
Dalam
penelitian ini, hasil pembelajaran yang ingin dilihat adalah tingkat penguasaan
siswa terhadap materi pembelajaran yang dipelajari dalam pembelajaran.
Materi-materi pembelajaran tersebut berkaitan dengan tujuan-tujuan pembelajaran
yang ingin dicapai dalam suatu pembelajaran.
C. Hasil
Penelitian yang Relevan
Tujuan pemaparan hasil-hasil penelitian sebelumnya adalah untuk mendukung
penelitian yang akan dilaksanakan. Pemaparan hasil-hasil penelitian sebelumnya
merupakan argumentasi rekomendasi terhadap rencana tindakan yang dipilih oleh
peneliti.
Hasil penelitian sebelumnya dapat menjadi dasar pertimbangan peneliti dalam
menyususn rencana tindakan. Untuk itu, ketika peneliti mempelajari suatu laporan
penelitian, dapat melihat pada bagian kesimpulan dan rekomendasi. Pada bagian
ini, diuraiakan hasil-hasil penelitian yang mendukung keberhasilan penelitian
yang akan dilakukan. Hasil penelitian yang diambil harus relevan dengan
permasalahan dan variabel yang diteliti. Bagian ini disusun untuk menghidari
duplikasi.
Contoh
hasil penelitian yang relevan (adaptasi dari Ery,
2011)
Penelitian
ini sesuai dengan penelitian-penelitian yang dilakukan sebelumnya, antara
lain; Haury (1993), Mulyana (2005),Soesanti
(2005), Pujiastuti (2003), Djamani ( 2009 );
Hasil penelitian Haury ( 1993), salah satu manfaat yang dapat
diperoleh dari metode inquiry adalah munculnya sikap keilmiahan siswa, misalnya
sikap objektif, rasa ingin tahu yang tinggi, dan berpikir kritis. Dengan sikap
keilmiahan yang baik, konsep-konsep dalam Sains lebih mudah dipahami oleh
siswa. Begitu juga, dengan motivasi belajar yang tinggi, kegiatan pembelajaran
Sains juga menjadi lebih mudah mencapai tujuannya, yaitu pemahaman
konsep-konsep Sains.
Mulyana (2005) yang melakukan penelitian pengembangan model inquiry
berbasis keterampilan hidup, dengan hasil penelitiannya sebagai berikut: hasil
belajar siswa dengan menggunakan pendekatan inquiry dalam mengembangkan
keterampilan siswa menunjukkan adanya keberhasilan. Keberhasilan itu
ditunjukkan oleh keterampilan siswa dalam memecahkan masalah
Soesanti
(2005) menggunakan model inquiry menunjukkan terjadinya peningkatan hasil
belajar untuk konsep struktur tumbuhan. Hasil penelitian yang dilakukan
Najimudin (2004), menunjukkan bahwa penerapan model inquiry berhasil
meningkatkan kemampuan berpikir, motivasi, rasa percaya diri dan keterampilan
bernalar siswa.
Penelitian
Pujiastuti (2003), Pengaruh pembelajaran IPA dengan menggunakan model inquiry terbimbing memiliki kemampuan
analisis dan sintesis yang lebih tinggi. Model pembelajaran yang diterapkan
dengan model inquiry membawa dampak terhadap peningkatan kemampuan analisis dan
sintesis, kemampuan berpikir, pengembangan keterampilan siswa dalam hal
pemecahan masalah, peningkatan kreativitas serta peningkatan keterampilan
bernalar
Temuan
penelitian Djamani ( 2009 ) menunjukkan bahwa adanya perbedaan hasil belajar
antara siswa yang menggunakan model pembelajaran inquiry dan siswa yang
menggunakan model pembelajaran konvensional. Hasil belajar siswa yang mengikuti
pembelajaran inqury lebih tinggi daripada siswa yang mengikuti pemebelajaran
konvensional.
D. Kerangka
Pikir (Kaitan Antara variabel X dan Variabel Y)
Kerangka pikir dalam PTK berisi analisis, kajian, dan kesimpulan secara
deduksi hubungan antar variabel berdasarkan pada teori dan hasil-hasil
penelitian yang telah dibahas. Kerangka pikir merupakan pendapat atau pandangan
peneliti terhadap teori yang dikemukakan. Hal ini merupakan penjelasan sementara
terhadap gejala yang menjadi objek permasalahan.
Kerangka pikir didasarkan pada: 1) alur pikiran yang logis; 2) penggunaan
presmis-premis yang benar dan cara penarikan kesimpulan yang sah; 3) landasan
teori yang terkait, 4) dan disesuaikan dengan permasalahan yang diambil. Hal
tersebut di atas, sebagai dasar untuk menentukan pengajuan jawaban sementara
(hipotesis), sehingga jawaban yang diperoleh merupakan kebenaran pula.
Keabsahan yang diakui sebagai pengetahuan ilmiah yang ditarik secara deduktif
akan bersifat konsisten, bukan sebagai kumpulan teori melainkan teori yang
dipilih secara selektif untuk membangun kerangka pikir.
Klimaks dari kerangka umumnya terdapat kata ” berdasarkan kajian teori dan
kerangka pikir di atas, diduga melalui X dapat meningkatkan Y”
Contoh
kerangka pikir (adaptasi dari Ery, 2011)
Berdasarkan
kajian teori dan hasil-hasil penelitian di atas, diduga penerapan pembelajaran model
inquiry dapat meningkatkan hasil belajar mengidentifikasi sifat-sifat benda
cair pada siswa kelas IV SDN Jatikalang, Krian, Sidoarjo.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Rancangan
(Prosedur) Penelitian
Tuliskan bahwa rancangan penelitian
ini adalah penelitian tindakan kelas, yang dilakukan secara bersiklus, sebutkan
model siklus yang digunakan, apakah akan menggunakan siklus, model Kemmis dan
Taggart, Kurt Lewin, john Eliot, Mc. Kernan, Hokins, atau lainnya. Deskripsikan
secara rinci kegiatan apa saja yang akan dilakukan peneliti pada
tahapan-tahapan dalam siklus: misalnya pada tahap: Perencanaan, pelaksanaan
tindakan, observasi, dan refleksi. Anda tidak perlu menyebutkan berapa siklus
PTK yang akan Anda lakukan, sebab Anda belum mengetahui kepastian berapa siklus
PTK Anda akan diakhiri.
Contoh:
Penelitian ini menggunakan metode
penelitian atau rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). PTK adalah
penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil
pembelajaran di kelas, atau memecahkan masalah pembelajaran di kelas yang
dilakukan secara bersiklus. Model pelaksanaan PTK ini menggunakan model PTK ”guru
sebagai peneliti” dengan acuan model siklus PTK yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart (1990),
berikut ini.
(Keterangan: sertakan gambar alur model siklus PTK, yakni perencanaan,
pelaksanaan, observasi, dan refleksi)
Siklus-1
Siklus-1 terdiri atas perencanaan,
pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi, dan perbaikan perencanaan.
Perencanaan :
Pada tahap perencanaan, peneliti
melakukan studi pendahuluan (case study) dengan melakukan refleksi terhadap
praktik pembelajaran penghitungan bilangan pecah di kelas-4 SD Manasuka Malang
yang selama ini sudah berlangsung. Peneliti berupaya untuk mengingat kembali
berbagai peristiwa pembelajaran yang telah berlangsung selama ini, membaca
jurnal belajar (learning journal) dan mewawancarai siswa kelas 4 SDN Manasuka
Malang untuk mengungkap kesulitan-kesulitan apa yang dialami dan dirasakan
mereka ketika belajar menghitung bilangan pecah, mengungkapkan
perasaan-perasaan siswa yang berkaitan dengan pembelajaran yang dialami dan
dirasakan siswa.
Disamping
itu, peneliti juga melakukan telaah terhadap dokumen-dokumen tentang kemampuan
siswa dalam menghitung bilangan pecah. Dokumen tersebut berupa dokumen latihan
dan penugasan, dan hasil tes ulangan tentang penghitungan bilangan pecah. Peneliti
juga mendiskripsikan kembali hasil pengamatan terhadap proses pembelajaran yang
teleh berlangsung selama ini, merefleksi model-model pembelajarannya, keaktifan
siswa ketika belajar, kemampuan kreativitas siswa, dan lain-lain.
Studi pendahuluan tersebut
menghasilkan masalah-masalah proses dan hasil pembelajaran tentang penghitungan
bilangan pecah di kelas-4 SD Manasuka Malang. Dalam Proses pembelajaran
peneliti merasakan adanya masalah dalam hal: Penerapan model pembelajaran
penghitungan bilangan pecah yang kurang tepat, keaktifan siswa yang rendah,
kurangnya kreativitas siswa, suasana pembelajaran yang kurang menyenangkan, dan
rendahnya kemampuan siswa dalam menghitung bilangan pecah. Berdasarkan hal
tersebut di atas, maka pada tahap perencanaan, meliputi:
(1) Pembuatan skenario
atau rencana pembelajaran yang berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),
(2) Penyiapan
alat peraga berupa benda-benda konkret,
(3) Penyiapan
lembar kegiatan siswa (LKS),
(4) Penyusunan
perangkat tes hasil belajar siswa yang berkaitan dengan kemampuan
menghitung bilangan pecah, dan
(5) Menyiapkan
instrumen untuk pengumpulan data berupa pedoman pengamatan, rubik
pengamatan, pedoman observasi untuk siswa,
pedoman wawancara, dan pedoman
dokementasi.
(6) Menyiapkan
Daftar Nilai yang akan diperlukan untuk menghimpun data nilai siswa.
Pelaksanaan Tindakan dan Observasi:
Pada tahap ini peneliti
mempraktikkan pembelajaran sesuai desain pembelajaran (RPP) yang telah disusun
sebagaimana terlampir, merekam: berbagai peristiwa pembelajaran yang sesuai
dengan fokus masalah yaitu : membuat
catatan hasil pengamatan terhadap proses dan hasil pembelajaran, keaktifan dan
kreativitas siswa yang tampak, dan mendokomentasikan hasil-hasil tes formatif,
dan memfoto berbagai peristiwa yang menjadi fokus penelitian.
Refleksi:
Berdasarkan hasil pengamatan di
atas, kemudian peneliti melakukan refleksi atas proses dan hasil pembelajaran
yang dicapai pada proses tindakan ini. Refleksi yang dimaksud adalah melakukan
berpikir ulang terhadap apa yang sudah dilakukan, apa yang belum dilakukan, apa
saja yang sudah dicapai, apa yang belum dicapai, masalah apa saja yang belum
terpecahkan, dan menentukan tindakan apa lagi yang perlu dilakukan untuk
meningka
tkan kualitas
proses dan hasil pembelajaran, yang akan dilanjutkan (diimplementasikan) pada
siklus ke -2.
Siklus -2
Seperti halnya pada siklus -1, pada
siklus -2 ini juga mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan tindakan dan
observasi, refleksi, dan perbaikan rencana.
Kegiatan pada setiap tahapan pada
siklus -2 ini disesuaikan dengan masalah-masalah proses dan hasil pembelajaran
yang terjadi pada siklus -1, apa yang belum tercapai pada siklus -1 akan
dilanjutkan dan diatasi pada siklus -2, sehingga pada rancangan penelitian ini
peneliti belum bisa mendeskripsikan kegiatan-kegiatan dan perbaikan-perbaikan
apa saja yang akan dilakukan pada siklus -2 ini.
B. Latar dan
Subjek Penelitian
Pada bagian ini memuat
sekurang-kurangnya tiga hal, yaitu: 1) waktu, 2) materi pelajaran (SK dan KD),
3) tempat, dan 4) subjek penelitian. Dengan demikian, akan menjawab pertanyaan:
·
Kapan
pelaksanaan PTK dilaksanakan?
·
Apa
materi pelajarannya?
·
Di kelas
berapa dan di sekolah mana penelitian dilaksanakan?
·
Berapa
(rincian) jumlah siswa dikelas yang akan teliti?
Contoh.
Penelitian
ini dilakukan pada semester I sekitar bulan Nopember sampai dengan Januari pada
tahun pelajaran 2010/2011. Materi pelajaran yang diteliti adalah
mengidentifikasi sifat-sifat benda cair. Penelitian dilaksanakan di kelas IVa
SDN Jatikalang I Krian-Sidoarjo, dengan
subyek siswa kelas IVa sebanyak 30 orang
yang terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Tim
peneliti pertama adalah Eri Kusumawati (guru kelas IVa) dan Rini Wartiningsih (teman
sejawat SDN Jatikalang I) sebagai peneliti kedua yang membantu peneliti
pertama sebagai teman kolaborasi
berdisikusi dan mengambil langkah-langkah terbaik.
C. Teknik
Pengumpulan Data.
Tuliskan cara-cara apa yang akan
Anda gunakan untuk mengumpulkan data. Karena PTK termasuk penelitian kualitatif-interaktif,
maka peneliti biasanya menggunakan berbagai macam teknik pengumpulan data.
Misalnya: teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan bahkan dapat juga
menggunakan angket terbuka. Ketika anda menyebutkan salah satu teknik dalam mengumpulkan
data (misalnya teknik observasi) maka uraikanlah bahwa teknik observasi
tersebut akan Anda gunakan untuk mengumpulkan data tentang apa, pada fokus
masalah yang mana, dan kepada subyek penelitian (responden) yang mana. Demikian
pula terhadap teknik wawancara, dokumentasi, dan angket terbuka.
Contoh.
Teknik pengumpulan data yang
digunakan dalam penelitiaan ini terdiri atas : observasi, wawancara, dokumentasi,
dan tes.
Teknik observasi digunakan untuk
mengamati gejala-gejala yang tampak dalam proses pembelajaran tentang
kesungguhan siswa ketika mengikuti pelajaran, keseringan siswa bertanya,
kemauan dan kemampuan siswa menanggapi pertanyaan teman sekelasnya. Observasi
juga dilakukan untuk mengamati kemampuan siswa dalam membelah buah-buahan yang
dijadikan sebagai alat peraga dan digunakan untuk mengamati proses kerja dan
diskusi dalam kelompok masing-masing. Disamping itu observasi juga digunakan
untuk mangamati hasil penugasan siswa untuk menciptakan (kreativitas)
potongan-potongan buah-buahan peraga, juga kreativitas dalam berpendapat ketika
siswa melakukan diskusi dengan teman sekelasnya. Teknik observasi juga
dilakukan untuk mengamati, merekan ucapan-ucapan siswa ketika bertanya,
menjawab, berdebat, menanggapi, menganalisis, dan berargumentasi dalam proses
pembelajaran.
Teknik wawancara digunakan untuk
wawancara dengan siswa tentang kesan-kesan dan pengungkapan perasaan siswa
ketika menghitung bilangan pecah dengan pembelajaran berbantuan benda konkret.
Ungkapan rasa senang siswa dilakukan dengan teknik wawancara. Wawancara juga
digunakan untuk mengungkapkan perasaan tentang kesulitan-kesulitan siswa ketika
belajar menghitung bilangan pecah dengan berbantuan benda konkret.
Teknik dokumentasi digunakan untuk
mendokumentasikan data tentang proses pembelajaran yang menggambarkan
langkah-langkah konkret yang dipraktikkan guru (penelitia) dalam prosess
pembelajaran. Data fokus masalah tentang keaktifan, kreativitas, dan rasa
senang siswa dikumpulkan dengan teknik dokumentasi. Dokumentasi yang dimaksud dalam
penelitian ini mencakup dokumentasi foto dan dokumen portofolio siswa.
Peristiwa-peristiwa yang tampak dan sesuai fokus masalah penelitian ini;
misalnya ketika siswa menunjukkan acungan jari, ketika bertepuk tangan yang
menggambarkan suasana menyenangkan, ketika mereka asyik bekerja secara
kelompok, dan lainnya, akan didokumentasikan.
Teknik lainnya adalah Tes. Tes
digunakan untuk mengumpulkan data tentang kemampuan siswa mengerjakan soal-soal
tes untuk penghitungan bilangan pecah.
D. Instrumen
Penelitian
Sebutkan instrumen apa saja yang
akan anda gunakan untuk mengumpulkan data. Di antara instrumen penelitian PTK
adalah: 1) instrumen untuk mengobservasi proses pembelajaran yang dilakukan
guru dan instrumen untuk mengobservasi siswa; 2) instrumen tes hasil belajar;
3) instrumen untuk wawancara; dan 4) instrumen untuk dokumentasi. Instrumen PTK
berupa pedoman observasi, pedoman wawancara, pedoman dokumentasi, dan angket
terbuka.
Contoh :
Pada dasarnya, yang menjadi instrumen penelitian ini
adalah peneliti sendiri. Peneliti menjadi instrumen penelitian karena dalam
proses pengumpulan data itulah peneliti akan melakukan adaptasi secara aktif
sesuai dengan keadaan yang dihadapi peneliti ketika berhadapan dengan subyek
penelitian. Peneliti dapat saja mengubah pertanyaan, memperdalam pertanyaan,
dan mengembangkan pertanyaan dan pedoman wawancara yang telah disususn kalau
memang adaptasi tersebut dipandang perlu dilakukan. Peneliti akan mengumpulkan
data yang berupa dokumen sesuai pedoman dokumentasi dan sangat mungkin juga
menambah daftar dokumen yang akan dikumpulkan pada saat itu juga ketika
melakukan proses dokumentasi.
Meskipun peneliti berperan sebagai
instrumen penelitian yang dapat melakukan adaptasi aktif terhadap keadaan
subyek dan fokus penelitian, namun, untuk menjaga fokus masalah penelitian maka
peneliti juga menggunakan instrumen penelitian yang berupa: pedoman-pedoman:
observasi, wawancara, dokumentasi dan soal tes.
E. Teknik
Analisa Data
Teknik analisa data dalam hal ini adalah teknik analisis data secara deskriptif
kualitatif. Disampig deskriptif kualitatif peneliti juga dibenarkan melakukan
analisis deskriptif kuantitatif dengan cara
menghitung persentase dan nilai rata-rata, terutama untuk data-data yang
berupa angka-angka (mungkin berupa nilai atau score yang dicapai siswa) peneliti tidak perlu melakukan analisis dengan
uji inferensial dengan melakukan uji hipotasis misalnya memasukkan data ke
dalam rumus-rumus seperti : uji korelasi, uji t, uji F dan lain-lain.
Dalam pelaksanaan PTK, ada dua jenis data yang
dikumpulkan oleh peneliti, yakni sebagai berikut:
1)
Data
kuantitatif (nilai hasil belajar siswa) yang dapat dianalisis secara
deskriptif, misalnya mencari nilai rerata, presentase keberhasilan belajar, dan
lainnya.
2)
Data kualitatif,
yang berupa informasi berbentuk kalimat yang memberikan gambaran tentang
ekspresi siswa terhadap tingkat pemahaman materi, pandangan atau sikap siswa
terhadap efektifitas media pembelajaran, aktivitas siswa dalam mengikuti
pelajaran, perhatian, antusias dalam belajar, kepercayaan diri, motivasi
belajar, dan sejenisnya.
Contoh :
Data yang telah terkumpul akan dianalisis
secara deskriptif, baik deskriptif kuantitatif maupun deskriptif kualitatif.
Data yang akan dianalisis secara deskriptif kuantitatif adalah data tentang kemampuan menghitung bilangan pecah yang dinyatakan dengan nilai (score)
yang dicapai siswa dari hasil tes.
Data kualitatif berupa catatan pengamatan,
dokumen portofolio siswa, dokumen foto, dan rekaman wawancara akan dianalisis
dengan analisis kualitatif dengan tahapan: pemaparan data, penyederhanaan data,
pengelompokan data sesuai fokus masalah, dan pemaknaan.
Dalam proses analisis data, untuk
memperoleh data yang benar-benar dapat dipercaya kebenarannya maka peneliti
akan melakukan member chek (pengecekan anggota/subyek penelitian),
triangulasi, cek dan recek dari berbagai sumber data.
DAFTAR RUJUKAN/PUSTAKA
LAMPIRAN
Lampiran-lampiran yang perlu
disertakan dalam rancangan/proposal penelitian diantaranya adalah :
1)
Ijin
Penelitian;
2)
Silabus;
3)
Rencana
Pelaksanaan Tindakan (RPP);
4)
Lembar Kerja
Siswa (apabila ada);
5)
Materi/Bahan
Ajar;
6)
Instrumen
Pengamatan KBM;
7)
Instrumen tes
Hasil Belajar;
8)
Daftar Nilai;
9)
Daftar Hadir;
10)
Curriculum vitae (daftar riwayat hidup);
Ditekankan pada pengalaman penelitian dan
pengalaman dibidang keilmuan yang relevan dengan penelitian yang sedang
diusulkan, misalnya: disamping identitas diri, keahlian, pengalaman mengajar,
pengalaman penelitian, daftar karya ilmiah yang dipublikasikan, dll.
11)
Jadwal Pelaksanaan
Penelitian;
12)
Anggaran
Penelitian (apabila diperlukan).
Keterangan:
- Lampiran/perangkat akademik: Silabus, RPP, LKS, materi/bahan ajar, instrument pengamatan KBM, instrument tes hasil belajar.
- Lampiran/perangkat administratif: Ijin penelitian, daftar nilai, daftar hadir, Curriculum vitae (daftar riwayat hidup), Jadwal Pelaksanaan Penelitian, Anggaran Penelitian (apabila diperlukan).
JADWAL PELAKSANAAN
PENELITIAN
Guna mengetahui alokasi waktu dan rencana kegiatan PTK,
peneliti menuangkannya dalam sebuah jadwal penelitian. Jadwal pelaksanaan
penelitian merupakan rencana yang akan dilakukan dan kegiatannya meliputi: 1)
persiapan, 2) pelaksanaan, dan 3) pelaporan hasil penelitian. Berikut contoh jadwal
penelitian.
Contoh Jadwal Pelaksanaan Penelitian
No
|
Kegiatan
|
Bulan.....
|
Bulan....
|
Bulan seterusnya...
|
||||||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
||
Persiapan
|
||||||||||||||||
1.
|
Case
study, Identifikasi masalah, dan perumusan masalah
|
|||||||||||||||
2.
|
Penentuan tindakan (Silabus, RPP, LKS, materi/bahan ajar)
|
|||||||||||||||
3.
|
Penyusunan instrumen
tes hasil belajar
|
|||||||||||||||
4.
|
Penyusunan instrumen
pengamatan KBM
|
|||||||||||||||
5.
|
Penyusunan kajian teori/ pustaka
|
|||||||||||||||
6.
|
Penyusunan Proposal PTK
|
|||||||||||||||
7.
|
Seminar Proposal
|
|||||||||||||||
Pelaksanaan Tindakan/ Pengambilan
Data
|
||||||||||||||||
8.
|
Pelaksanaan tindakan
pembelajaran siklus 1, dilanjutkan paparan data, pengolahan/analisis data, dan
refleksi.
|
|||||||||||||||
9
|
Pelaksanaan tindakan
pembelajaran siklus 2, dilanjutkan paparan data, pengolahan/analisis data, dan
refleksi.
|
|||||||||||||||
Pelaporan
|
||||||||||||||||
10.
|
Penyusunan laporan hasil tindakan
|
|||||||||||||||
11.
|
Seminar hasil penelitian
|
|||||||||||||||
12.
|
Pelaporan hasil penelitian lengkap
|
|||||||||||||||
2 komentar:
Terimakasih tulisannya semoga bermanfaat. Kami tunggu tulisan berikutnya.
Terima kaasih Anda telah membaca tulisan kami. Kami tunggu kritik dan sarannya.
Posting Komentar